Kesempatanku Bangkit untuk Anakku

706 Views

Menyandang status sebagai ODHA (orang yang hidup dengan HIV dan AIDS) tidak pernah sedikit pun terlintas dalam pikiran saya, karena melihat latar belakang saya hanya seorang ibu rumah tangga.

Dua tahun yang lalu tepat nya di awal tahun 2018 adalah masa terberat dalam hidup saya, mengetahui kalo saya terinfeksi HIV dari Laki-laki yang sudah enam tahun menjadi suami saya yang juga terkena virus HIV.

Awalnya dia mengalami sakit dengan gejala demam tinggi, keringat malam dan kadang batuk batuk tapi semakin hari semakin parah bahkan dia sampai lemas hanya dapat berbaring di tempat tidur.

Akhirnya keluarga sepakat untuk membawa suami ke rumah sakit untuk dirawat da rumah sakit Al-Islam lah menjadi pilhan keluarga saya.

Suami saat itu langsung di tangani oleh dokter dan di lakukan beberapa test laboratorium, dokter pun mendiagnosa kalo dia terkena infeksi pernafasan atau TB paru-paru yang sudah akut.

Hari kedua suami di rawat saya masih ingat sekali kejadian di hari itu, tanggal 17  Januari 2018 tiba tiba seorang perawat mengajak saya untuk ke datang ke ruanganya katanya ada hal yang ingin di bicarakan mengenai penyakit dari suami saya.

Perawat tersebut mulai menanyakan beberapa pertanyaan yang sangat sensitif yaitu tentang aktifitas sehari-hari dia, usia penikahan kami sampai pada kondisi dari anak-anak kami. Dengan tenang saya pun menjawab setiap pertanyaan perawat itu, tapi tiba-tiba perawat itu memotong jawaban saya dengan bertanya :

 

Perawat : “Ibu tahu apa penyakit bapak?”

Saya : “TB paru-paru kan ?”

Perawat : “Bukan Ibu, selain itu?”

Saya : “Tidak tahu, Suster …”

Perawat : “Suami Ibu kena virus HIV, sudah stadium tiga”

 

Apa yang saya rasakan saat itu adalah antara percaya dan tidak, sekaligus kaget, sedih, kecewa, dan bingung atas apa yang baru saja saya dengar.

 

Saya : “Terus bagimana dengan keadaan suami saya, apa dia akan sembuh?”

Perawat : “Kami sedang berusaha, Ibu banyak berdo’a semoga ada keajaiban dan Ibu harus siap dengan kemungkinan terburuk, dan saya sarankan Ibu juga melakukan test HIV, ada kemungkinan kalo suami Ibu sudah menularkan kepada Ibu”,

 

Tanpa berpikir lagi di hari itu juga saya melakukan test HIV,dan hasilnya sudah diduga adalah Reaktif .

Perawat : “setelah pemeriksaan laboratorium, Ibu di nyatakan positif HIV

 

Saat itu saya menangis sejadi-jadinya, hati saya hancur, sakit, sungguh tidak bisa diungkapkan lagi seperti apa kondisi saya saat itu, saya bingung sekali dalam hati rasanya saya ingin sekali mati.

 

Sebulan berlalu setelah itu suami saya meninggal, karena tidak bisa melawan virus yang ada didalam tubuhnya. Tidak perlu saya gambarkan kembali bagaimana perasaan saat itu, dunia ini sungguh sedang tidak berpihak pada saya, seperti mati secara perlahan-lahan.

Hari demi hari saya lalui, dan akhirnya  saya memulai terapi antiretroviral sesuai dengan anjuran dan saran dokter, setiap hari saya harus minum obat yang ada didalam pikiran saya adalah bayang-bayang sampai kapan akan bertahan dan perasaan tak menentu ini ditambah dengan masih harus melakukan test HIV pada kedua anak saya.

Saya juga mengalami efek samping dari terapi ARV dan muncul berbagai keluhan, seperti diantaranya ruam pada tubuh saya, pusing yang amat sangat, mual, sampai membuat saya harus bolak balik ke rumah sakit akibat reaksi tubuh terhadap obat HIV yang diminum.

Sampai di suatu hari saya di perkenalkan oleh salah seorang teman yang kebetulan sama-sama pengidap HIV, dan pada saat itu hanya dialah teman yang saya berani terbuka mengenai status saya ini.

Saya mulai banyak bertanya dari masalah obat, makanan dan semuanya yang menyangkut hidup dari seorang pengidap HIV sepert saya ini.

Dan pada akhirnya saya di kenalkan dengan beberapa teman pendamping dan bersedia menemani saya untuk melakukan test HIV untuk anak saya.

Betapa bersyukurnya saya, sujud syukur alhamdulillah hasil dari tes laboratorium untuk anak-anak sata adalah non reaktif atau negative.

 

Mulai dari sinilah saya bangkit, semangat untuk minum obat dan  dalam hati saya ini adalah kesempatan yang Tuhan berikan kepada saya untuk dapat berjuang dan hidup sehat bukan hanya untuk saya sendiri tapi untuk anak-anak saya, masa depan anak-anak saya, saya harus bisa merawat anak-anak saya untuk dapat menggapai cita-citanya.

Sejak saat itu saya mulai aktif di kegiatan komunitas yang berkenaan dengan masalah-masalah orang yang hidup dengan HIV dan AIDS, saya sering ikut study club*  berbagai kegiatan pelatihan lainnya.

Saya juga sering melakukan  penyuluhan ke masyarakat tentang pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS khususnya pada ibu rumah tangga seperti saya.

Agar semakin banyak masyarakat yang tahu mengenai bagaimana penularan dan cara pencegahan serta pengobatannya. Dan ketika di temukan orang yang dengan HIV positif tidak sampai di kucilkan dan di diskriminasi.

 

Saya akan terus menyebarkan informasi ini ke masyarakat karena banyak sekali masyarakat yang belum paham mengenai HIV dan AIDS yang tepat agar tidak ada lagi perempuan atau siapa pun di luar sana yang mengalami nasib seperti saya.

 

Inilah ceritaku, Sahabat Puzzle yang kembali bangkit untuk mereka, anak-anak saya!

 

No comments

Perkumpulan Puzzle Indonesia adalah sebuah pusat informasi dan edukasi terkait kesehatan masyarakat khususnya HIV dan AIDS

Supported by :

Hubungi Kami

Basecamp Perkumpulan Puzzle Indonesia
JL. Desa Gg Desa 1 No. 25 RT 03 RW 02
Kel. Babakansari Kec. Kiaracondong
Bandung 40283 Jawa Barat

022-20541982

info@puzzleindonesia.com