Susah susah gampang merayu anak minum ARV

731 Views

“Bunda kenapa aku harus minum obat terus?”
Jleb deh kalau dia tiba tiba tanya gitu.

Saya adalah seorang ibu yang punya buah hati yang berstatus hiv positif. Dia adalah putri kedua kami. Saya juga odhiv suami juga. Awal mau melahirkan putri kami itu saya sudah punya firasat buruk sebenernya. Tapi saya coba tepis rasa khawatir itu karena putra pertama kami statusnya negatif hiv. Walau dari awal saya dan suami adalah pasangan odhiv.

Tapi memang Tuhan berkehendak lain. Putri kedua kami harus lahir dengan status hiv. Tentu ini bukan hal mudah buat kami. Suami saya sempat mau menceraikan saya karena merasa bersalah dan gagal sebagai ayah. Dia yang pertama kena hiv.

Tapi saya bilang gini ke suami saya : kalau mau tanggung jawab jangan tinggalkan kami. Justru tunjukkkan kalau kita bisa lalui ini bersama.

Awalnya hampir tiap hari kami nangis. Merasa jadi orang tua yang gagal. Suami saya menyalahkan dirinya yang berstatus odhiv dan saya menyalahkan diri sendiri karena tidak menjaga kesehatan sehingga kondisi kandungan saya lemah. Ya terus begitu selama beberapa minggu.

Ya tapi hidup harus tetep berjalan kan? Dan anak kedua kami akhirnya harus rela tidak kami beri asi tapi susu formula. Dari awal saya memang tidak memberinya asi karena takut menularkan hiv. Karena saya tahu saya odhiv. Sampai kira-kira usia putri kami satu setengah tahun kami coba priksakan dia dan ternyata memang Tuhan berkehendak lain. Putri kami statusnya positif hiv.

Saya bersyukur dokter yang menangani kami cukup sabar menjawab berbagai macam kekhawatiran saya dalam mengurus buah hati. Cuma memang ada sebuah pertanyaan yang butuh ribuan cara menjawabnya. “Bunda aku kok harus minum obat terus? Bosen”

Kalau sudah gitu itu lemes rasanya. Tapi saya dan suami juga minum arv jadi kami tunjukkan ke dia putri kami kalau itu vitamin. Memahamkan tentang status odhiv pada anak kecil tak semudah memahamkannya bagi orang dewasa. Putra kami yang pertama pun sudah tahu kalau bapak ibunya dan adiknya berstatus hiv. Dan dia jadi abang yang keren. Dia juga ikut merayu si kecil kalau harus minum arv. Saya bersyukur punya anak kayak dia.

Kuncinya dikomunikasi. Sabar untuk merayu si kecil supaya tidak putus arv. Kami di rumah pasang alarm di jam yang sama. Si abang pun ikut minum vitamin c di jam itu. Jadi kami saling kerja sama. Suami saya dan anak anak. Tidak bisa dihadapi sendiri. Sampai akhirnya jadi kebiasaan.

Hal sulit selanjutnya adalah ketika putri kami yang cerdas ini bertanya pada temen sekolahnya. “Kamu minum vitamin jam berapa?” Dan temennya geleng geleng bingung.

Tarik napas dan siap dengan penjelasan. Ya anak kecil itu banyak pertanyaan tak terduga. Kami terus berusaha memahamkan ke putri kami kalau kondisi tubuh tiap orang itu berbeda. Ada yang butuh vitamin ada yang tidak. Ada yang terlahir dengan daya tahan bagus ada yang tidak. Ada yang lahir punya tangan kaki lengkap ada yang tidak. Begitulah pemahaman yang kami tanamkan secara berkala dan terus menerus. Dan komunikasinya selaras antara saya dan suami serta si abang.

Kini putri saya sudah duduk di bangku sekolah menengah pertama. Dan dia mulai bisa diajak bicara lebih serius. Kamis sering ajak dia buat ikut kegiatan KDS. Awal nya dia bingung. “Bunda orang orang di sini hiv kah? Bunda orang orang ini kok minum vitamin kayak kita? Apa kita sama seperti mereka?”
Ini pertanyaan yang bingung buat dijawab. Suami saya dengan berusaha menahan air mata dia pun menjelaskan pelan pelan tentang hiv pada putri kami. Cepat atau lambat dia memang mesti tahu statusnya. Makanya ketika dia sudah mulai cukup besar kami ajak dia ikut kegiatan KDS.

Ini yang suami saya bilang ke putri kami : “nak ayahmu ini sama seperti orang orang itu. Bunda juga. Adek juga. Kita memang harus minum vitamin seumur hidup. Maafin ayah ya nak belum bisa jadi oranb tua yang baik.”
Dan putri saya memeluk suami saya sambil bilang : ” ayah jangan sedih, adek bangga kok punya orang tua yang baik. Ayah jangan nangis ya.”

Ya dihari itu kami saling terbuka satu sama lain tentang status kami. Sebagai ibu melihat adegan anak saya pelukan sama bapaknya tangis tangisan itu moment luar biasa. Tapi lega akhirnya bisa cerita ke putri saya tentang apa yang sebenarnya.

Saya bersyukur sekali kami sekeluarga itu bisa saling menguatkan. Kuncinya komunikasi. Kedekatan anak dan orang tua. Saya yakin tiap keluarga pasti punya masalah, dan tidak ada masalah tanpa solusi.

Sejak hari itu putri kami justru makin banyak bertanya seputar hiv. Diluar dugaan. Saya sudah takut dia akan murung. Bersyukur sekali doa saya terkabul. “Tuhan berikan saya putra putri yang kuat untuk menghadapi masalahnya. Tidak lari dari masalah dan selalu menyikapi dengan bijak. Aamiin”

Itulah kisah saya yang sederhana. Tentu ada banyak kisah teman teman odhiv yang lebih keren. Dan maaf ya kawan kalau bahasa saya masih amburadul. Semoga niat saya berbagi kisah ini bisa saling menguatkan. Kuncinya komunikasi. Salam sehat!

Cerita dari Fikrah R Saputra

No comments

Perkumpulan Puzzle Indonesia adalah sebuah pusat informasi dan edukasi terkait kesehatan masyarakat khususnya HIV dan AIDS

Supported by :

Hubungi Kami

Basecamp Perkumpulan Puzzle Indonesia
JL. Desa Gg Desa 1 No. 25 RT 03 RW 02
Kel. Babakansari Kec. Kiaracondong
Bandung 40283 Jawa Barat

022-20541982

info@puzzleindonesia.com