Kisah Si Langit Biru

859 Views

Perkenalkan nama saya Langit Biru. Panggil saja saya Langit. Umur 27 tahun. Setelah hampir beberapa tahun berpindah-pindah tempat tinggal, Bandung menjadi kota terakhir yang dipilih untuk menetap. Hingga saat ini.

 

Sejujurnya saya masih ragu untuk berbagi sekelumit kisah hidup saya. Namun saya ingin sedikit berbagi untuk teman-teman sekalian.

 

Dan ini kisah saya..

 

Saya dinyatakan HIV positif pada April 2014, tanggal tepatnya saya lupa. Awalnya memang berat sekali menerima status sebagai Orang Dengan HIV AIDS atau biasa disebut dengan istilah ODHA. Tapi apa boleh buat, inilah hasil yang saya tanam. Saya tidak akan terinfeksi jika tidak ada penyebabnya. Saya menyadari ini semua. Sangat menyadari.

 

Saya mengalami perang batin. Banyak sekali ketakutan. Semua pikiran negarif muncul. Takut ini lah. Takut itu lah. Saya takut sekali dijauhi oleh orang-orang terdekat saya. Terlebih oleh pasangan saya kala itu.

 

Orang yang pertama mengetahui bahwa saya ODHA adalah pasangan saya. Awalnya saya takut sekali kalau nanti saya ditinggalkan oleh pasangan saya karena saya ODHA. Setelah saya memberikan informasi selengkap-lengkapnya tentang HIV AIDS. Bagaimana seseorang bisa terinfeksi dan apa yang harus dilakukan setelah terinfeksi.

 

 

Setelah bercerita panjang lebar sambil bercucuran air mata, alhamdulillah puji syukur kepada Tuhan, pasangan saya mau menerima status baru saya sebagai ODHA. Bahkan selalu mengingatkan saya untuk minum obat ARV tepat waktu.

 

Saya belum bisa terbuka akan status ODHA saya kepada orangtua karena belum sanggup melihat mereka bersedih hati.

 

Mei 2014 saya mulai terapi obat Anti Retro Viral atau ARV. Diawal terapi obat, saya mengalami efek samping berupa pusing dan mual. Alergi pun berlanjut setelah 3 hari minum obat, kulit saya ruam dan sekujur badan saya panas terbakar.

 

Akhirnya saya ganti jenis obat ARV lini 2 jenis Aluvia, Tenovofir dan Lamivudin. Alhamdulillah obat ini cocok bagi saya. Palingan saya harus rutin untuk cek kolesterol ke dokter. Karena selama 3 bulan mengonsumsi obat tersebut, berat badan saya naik secara drastis sebanyak 13 kg. Hehe.

 

Menjadi seorang ODHA, banyak sekali memberi dampak di hidup saya. Ada dampak baik dan buruknya namun banyak sekali dampak baiknya. Sekarang saya merasa baik-baik saja bahkan merasa saya bukan ODHA karena merasa sehat selalu.

 

Apalagi setelah bertemu dan berkumpul dengan para anggota KDS Puzzle Club. Melihat orang-orang yang sama berjuang untuk tetap sehat memotivasi saya untuk terus semangat.

Dulu saya gampang tersinggung apabila ada orang yang membahas akan status ODHA saya. Namun sekarang saya bisa membuktikan kepada orang-orang bahwa ODHA tidak seburuk seperti yang mereka pikirkan.

 

Untuk teman-teman yang mempunyai status yang sama, yuk semakin semangat. Kita buktikan kepada semua orang bahwa kita bukan orang yang lemah. Kita harus kuat dan bisa bermanfaat bagi orang-orang disekitar kita.

 

Untuk teman-teman yang belum mulai terapi ARV, yuk mulai terapi. Mumpung masih sehat. Jangan tunggu lebih lama lagi. Jangan takut akan efek samping obatnya karena semua itu bisa dilewati kok.

 

Untuk teman-teman yang belum melakukan tes HIV, yuk tes. Lebih baik mengetahui status HIV kita lebih awal. Jangan menunggu sampai kita sudah tidak sehat lagi.

 

Bagi saya, bahagia itu sederhana. Sesederhana berbagi cerita ini.

 

Semoga bermanfaat bagi teman-teman sekalian.

 

 

#PerkumpulanPuzzleIndonesia #KDSPuzzleClub #ShareSupportPuzzle #SahabatPuzzle #BringToComplete #HIVPrevention #LSMPeduliAIDS #Activist

 

Editor : Arul – @rullzmika

 

 

 

 

No comments

Perkumpulan Puzzle Indonesia adalah sebuah pusat informasi dan edukasi terkait kesehatan masyarakat khususnya HIV dan AIDS

Supported by :

Hubungi Kami

Basecamp Perkumpulan Puzzle Indonesia
JL. Desa Gg Desa 1 No. 25 RT 03 RW 02
Kel. Babakansari Kec. Kiaracondong
Bandung 40283 Jawa Barat

022-20541982

info@puzzleindonesia.com