puzzleindonesia.com – Dalam sejarah evolusi kehidupan di Bumi, beberapa spesies hewan telah bertahan hidup selama jutaan tahun. Meskipun banyak yang telah punah atau berubah seiring waktu, beberapa spesies telah mempertahankan bentuk dan fungsi dasar mereka, menjadikan mereka saksi hidup dari masa pra-sejarah. Berikut adalah lima spesies hewan tertua di dunia.

1. Lingulata (Lingula anatina)

Lingula anatina, yang termasuk dalam kelas Lingulata, adalah salah satu spesies hewan tertua yang masih bertahan hingga hari ini. Dikenal sebagai “fosil hidup”, Lingulata telah ada selama setengah miliar tahun dan hampir tidak mengalami perubahan selama periode tersebut. Spesies ini adalah hewan laut berukuran kecil hingga sedang, dengan cangkang keras dan “kaki” berambut yang digunakan untuk bergerak dan menggali di dasar laut. Lingulata biasanya hidup di perairan dangkal di daerah tropis dan subtropis dan memakan partikel organik yang tersuspensi di air. Reproduksi mereka unik, dengan beberapa individu mampu mengubah jenis kelamin mereka jika diperlukan. Lingulata memiliki signifikansi ilmiah yang besar, memberikan petunjuk berharga tentang evolusi kehidupan dan kondisi lingkungan di Bumi selama era Paleozoikum.

2. Cacing Pipih (Platyhelminthes)

Cacing pipih atau Platyhelminthes adalah salah satu kelompok hewan invertebrata paling primitif, dengan sejarah evolusi yang mencakup hingga 550 juta tahun. Mereka memiliki struktur tubuh yang sederhana, datar, dan simetris bilateral, namun memiliki sistem organ yang relatif kompleks dibandingkan dengan hewan sederhana lainnya. Cacing pipih dapat hidup di berbagai habitat, termasuk air tawar, laut, dan daratan, dan dapat berperan sebagai organisme bebas atau parasit. Beberapa spesies cacing pipih parasit, seperti lintah dan cacing pita, dikenal menyebabkan penyakit pada manusia dan hewan lain. Meskipun memiliki struktur yang sederhana, cacing pipih memiliki proses reproduksi yang unik, baik secara seksual maupun aseksual. Dalam beberapa kasus, mereka juga dapat melakukan regenerasi, memungkinkan mereka untuk tumbuh kembali bagian tubuh yang hilang. Studi tentang cacing pipih telah memberikan pengetahuan penting tentang evolusi hewan dan mekanisme dasar biologi.

3. Hiu Goblin (Mitsukurina owstoni)

Hiu Goblin (Mitsukurina owstoni) adalah spesies hiu langka dan unik yang telah bertahan selama sekitar 125 juta tahun. Dikenal karena penampilannya yang aneh, hiu ini mendapatkan namanya dari moncong panjang dan gigi runcingnya yang menyerupai goblin dalam mitologi Jepang. Hiu ini merupakan penghuni laut dalam, biasanya ditemukan pada kedalaman antara 200 hingga 1300 meter. Hiu Goblin memiliki kemampuan adaptasi luar biasa untuk bertahan hidup dalam lingkungan yang gelap dan tekanan tinggi. Mereka memiliki sistem deteksi bioelektrik yang sangat baik, yang memungkinkan mereka untuk mencari mangsa dalam kegelapan. Ketika mendekati mangsa, moncong panjang mereka berfungsi untuk mengejutkan dan menangkap mangsa dengan gigi runcingnya. Meski penampilannya mungkin menakutkan, Hiu Goblin tidak berbahaya bagi manusia dan jarang ditemui karena habitatnya di kedalaman laut. Penelitian tentang Hiu Goblin memberikan wawasan berharga tentang kehidupan di lingkungan laut dalam dan evolusi spesies hiu.

4. Penyu Hijau (Chelonia mydas)

Penyu Hijau (Chelonia mydas) adalah spesies penyu laut besar yang telah ada selama sekitar 100 juta tahun. Dikenal juga sebagai penyu karung, spesies ini dapat ditemukan di perairan tropis dan subtropis di seluruh dunia. Penyu hijau mendapatkan namanya dari warna lemak tubuhnya yang hijau, bukan dari warna cangkangnya, yang biasanya coklat atau hitam. Spesies ini dikenal karena siklus hidupnya yang panjang dan migrasi jarak jauh. Penyu hijau biasanya bertelur di pantai yang sama tempat mereka menetas, terkadang melakukan perjalanan ribuan kilometer untuk kembali ke tempat kelahiran mereka. Penyu hijau adalah herbivora, terutama memakan rumput laut dan ubur-ubur, yang membantu dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut. Meski memiliki angka kelahiran yang tinggi, hanya sedikit penyu hijau yang mencapai usia dewasa karena ancaman predator dan aktivitas manusia. Penyu hijau saat ini terdaftar sebagai spesies yang terancam punah, dengan ancaman utama termasuk perburuan ilegal, kerusakan habitat, dan perubahan iklim. Upaya konservasi sedang dilakukan di seluruh dunia untuk melindungi dan melestarikan spesies ini untuk generasi mendatang.

5. Coelacanth (Latimeria chalumnae)

Coelacanth (Latimeria chalumnae) adalah spesies ikan laut dalam yang luar biasa, karena diyakini telah punah sekitar 65 juta tahun yang lalu, namun ditemukan kembali hidup pada tahun 1938.  Fosil Coelacanth tertua ditemukan dalam batuan berusia hingga 400 juta tahun. Dikenal karena sirip berbentuk kaki dan struktur tubuh yang primitif, Coelacanth memberikan petunjuk berharga tentang transisi vertebrata dari kehidupan laut ke darat. Spesies ini memiliki ciri khas berupa sirip berbentuk kaki dan memiliki struktur tubuh yang hampir tidak berubah selama ratusan juta tahun. Coelacanths biasanya ditemukan di perairan dalam di Samudra Hindia dan sekitarnya, dan memiliki pola pemangsaan dan reproduksi yang unik. Meski mereka adalah pemangsa, Coelacanths lebih sering berdiam diri di gua laut dalam dan hanya berburu ketika mangsa lewat di dekatnya. Spesies ini juga dikenal memiliki periode gestasi terpanjang di antara semua hewan, dengan anak-anaknya berkembang dalam rahim ibu selama hampir tiga tahun. Upaya pelestarian sedang dilakukan untuk melindungi Coelacanth dari ancaman perikanan dan kerusakan habitat.

Spesies hewan tertua di dunia menawarkan jendela ke masa lalu, memberikan wawasan berharga tentang evolusi kehidupan di Bumi. Meski lingkungan dan kondisi Bumi berubah seiring waktu, adaptabilitas dan kegigihan spesies ini memungkinkan mereka untuk bertahan dan berkembang hingga hari ini. Studi tentang hewan-hewan ini terus membantu ilmuwan memahami lebih baik tentang sejarah kehidupan di planet kita.