Perjuangan Melawan HIV AIDS

634 Views

Rasanya bila membahas tentang tahun baru, tak lepas dari rencana dan pencapaian. Semua orang pasti mempunyai rencana dan mimpi. Begitu pun dengan diriku karena aku adalah seorang pemimpi.

Rencana dan mimpiku harus kutahan dulu karena Tuhan berkata lain.

Tepat tanggal 26 Desember 2018, aku jatuh pingsan dan baru tersadar ketika sudah berada di klinik tempatku bekerja. Karena aku semakin drop, akhirnya aku dirujuk ke IGD di salah satu rumah sakit.

Setelah siuman, seorang dokter yang menanganiku langsung menyampaikan perihal yang sedang aku hadapi sekarang. Aku didiagnosa HIV positif.

Aku pun menangis sejadi-jadinya. Sedih dan putus asa secara bersamaan. Rasanya aku sudah tidak punya harapan lagi untuk melanjutkan hidup. Hari demi hari, rasanya berat sekali untuk kulalui namun aku berusaha untuk sabar dan ikhlas.

Awalnya aku tinggal bersama kakakku, lalu aku memutuskan untuk pindah ke rumah orangtuaku. Ada bapak dan mimi. Mimi adalah panggilan ibu pengganti ibu kandungku, 4 tahun yang lalu lebih dahulu menghadap Yang Maha Kuasa.

Setelah hampi seminggu, keadaanku membaik, entah kenapa pagi itu aku merasa pusing sekali, mual dan sempat muntah beberapa kali. Dan rasanya lemas sekali. Pihak keluarga lalu memanggil petugas kesehatan di desa untuk memeriksa keadaanku.

Awal Februari 2019, keluarga membawaku ke salah satu ruma sakit di Indramayu untuk mendapatkan perawatan intensif. Keluargaku dipanggil oleh salah satu Konselor HIV di sana. Karena selain didiagnosa HIV positif, sudah memasuki stadium 4 dengan Toksoplasma. Betapa hancurnya hati kakakku, satu-satunya keluarga yang mengetahui statusku. Apalagi melihat keadaan adiknya yang lemah tak berdaya.

Selang beberapa bulan pengobatan, keluargaku mulai bosan menghadapi keadaanku, namun tidak dengan kakakku. Dia yang paling setia menemaniku untuk berobat.

Aku sempat bersitegang dengan bapakku. Beliau berkata apakah aku kuat untuk pengobatan seumur hidup, hidupku masih panjang, dan beliau sudah berkonsultasi dengan seorang kiyai setempat untuk pengobatan herbal dari dedaunan.

Memasuki bulan Ramadan 2019, aku tidak berpuasa sebulan lamanya dikarenakan kondisiku tidak memungkinkan untuk berpuasa.

Aku pernah merasa iri karena orang-orang sekitarku membanding-bandingkanku dengan teman-temanku yang sudah sukses, berkeluarga dan bisa meraih mimpinya. Sedangkan aku, hanya bisa diam di rumah tanpa melakukan hal-hal yang berarti.

Memasuki Oktober 2019, aku dikenalkan oleh teman sekolahku dulu kepada seorang perempuan. Kami lalu berkenalan dan dekat. Aku banyak berbagi tentang perjalanan hidupku termasuk dengan apa yang sedang aku jalani sekarang.

Campur aduk antara canggung, takut dan tegang ketika pertama kali membuka status HIV positifku kepada orang yang aku sayangi. Dan tanpa diduga sebelumnya, dia ternyata menerima statusku sebagai ODHA.

Tanggal 11 November 2019, aku menikahinya dan semuanya berjalan dengan lancar.

Saat ini aku yakin untuk tetap sehat, bisa bangkit dan pantas bahagia.dan jangan pernah takut dengan keadaanmu sekarang, karena hidup harus tetap diperjuangkan.

No name.

No comments

Perkumpulan Puzzle Indonesia adalah sebuah pusat informasi dan edukasi terkait kesehatan masyarakat khususnya HIV dan AIDS

Supported by :

Hubungi Kami

Basecamp Perkumpulan Puzzle Indonesia
JL. Desa Gg Desa 1 No. 25 RT 03 RW 02
Kel. Babakansari Kec. Kiaracondong
Bandung 40283 Jawa Barat

022-20541982

info@puzzleindonesia.com