Pengalamanku Melakukan Ruqyah

1 View


Ruqyah adalah sarana pengobatan yang mulai marak di Indonesia sejak lama. Menjadi salah satu praktik pengobatan yang mengolaborasikan ritual keagamaan dan kebudayaan lokal.

Di luar Indonesia, praktik tersebut biasa disebut dengan istilah Exorcism. Dilakukan untuk pengusiran setan yang bersemayam dalam tubuh seseorang.

Dan aku adalah salah satu orang yang mempunyai pengalaman tersebut.

Jadi begini ceritanya. Waktu itu, aku diajak oleh keluargaku tanpa pemberitahuan yang jelas. Paman, ibu dan kakak lelakiku pun ikut serta dalam perjalanan menuju tempat ruqyah, di sebuah desa yang belum pernah aku kunjungi sebelumnya.

“Ayo kita obatin kamu, supaya cepat kerja, buang sial dan menjadi anak yang sholeh seperti dulu,” begitulah kata ibuku.

Sesampainya di lokasi tersebut, pada malam hari, aku sempat terkaget-kaget dengan suara tangisan dan teriakan orang-orang di sana.

Kami pun masuk, ke dalam sebuah rumah sederhana yang isinya dipenuhi dengan lukisan zaman dahulu. Di sudut ruangan, aku melihat seorang perempuan sedang tergeletak sambil menangis dan tertawa secara bersamaan. Bingung kurasa melihat ekspresi wajah tak terkendali dari perempuan tersebut.

Saat sedang memperhatikan keadaan sekitar, datanglah seorang lelaki paruh baya dan berkata, “sok calik heula ibu, akang. Antosan heula weh sakeudap.” (silakan duduk sebentar dulu ibu, kakak. Tunggu dulu sebentar)

Ampun! Ampun! Panas! Urang mah ngan ngajagaan awewe ieu!” (Ampun! Ampun! Panas! Saya hanya menjaga perempuan ini), teriak perempuan yang sedang terbaring di sudut ruangan tadi.

Nyak lamun rek ngajagaan, tong cicing di ragana atuh!” (Iya kalau ingin mau menjaganya, jangan diam di dalam tubuhnya dong!), jawab lelaki paruh baya yang sedang melakukan praktik.

Da kumaha deui, urang mah dititah!” (Ya bagaimana lagi, kan saya hanya disuruh)

Disuruh siapa?” (Disuruh siapa?)

Ampun!! Ampun!!

Begitulah perdebatan yang aku dengar antara perempuan dan lelaki paruh baya. Setelah perempuan tersebut mulai tenang, lelaki paruh baya menyuruh membuang apapun yang ada di dalam tenggorokannya ke dalam kantong keresek yang sudah disediakan.

“Oalah, ini toh yang disebut dengan praktik ruqyah,” pikirku. Di dalam otakku kini penuh dengan segala bentuk pertanyaan. Apa yang terjadi pada perempuan tersebut? Bagaimana dan kenapa perempuan tersebut melakukan hal itu? Apakah setan yang berada di dalam tubuhnya keluar dan masuk ke dalam kantong keresek yang kecil tadi?

Namun, aku tidak memutuskan bertanya secara langsung, hanya terus mengamati proses ruqyah tersebut hingga selesai.

Ibuku mulai menghampiri lelaki paruh baya tersebut dan mulai menceritakan apa maksud tujuan kami datang ke sini. Aku sempat menguping pembicaraan mereka. Ibuku ingin menjadikanku “normal” seperti dulu lagi. “Apakah lelaki paruh baya itu akan mengetahui orientasu seksualku yang sebenarnya?” Dan semakin banyak pula pertanyaan demi pertanyaan di dalam kepalaku.

Kemudian aku mulai diperiksa oleh lelaki paruh baya, disuruh memejamkan mata dan mendengarkan segala intruksi dari beliau. Jujur, aku tidak merasakan apa-apa dan bingung ketika beliau berkata sambil memegang keningku, bahwa jin dan setan yang berada di dalam tubuhku, sangatlah kuat.

Setelah beberapa saat, beliau berhenti sejenak dan menyuruhku membuka mata, memberikan air mawar yang telah beliau sediakan, untuk mandi pada malam itu juga.

Rasa dingin menusuk tulang tubuhku yang ringkih, tak kuhiraukan karena aku ingin cepat-cepat pulang ke rumah.

Aku pun mengikuti proses ruqyah selama 3 minggu berturut-turut. Namun tak ada perubahan apapun yang aku alami, selain masuk angin karena proses mandi kembang di malam hari. Kemudian, aku meminta kepada ibuku, agar menghentikan praktik ruqyah tersebut, karena tidak memberikan efek positif pada diriku.

Aku tidak mengatakan bahwa praktik ruqyah tersebut salah karena mungkin, sebagian orang banyak yang mendapatkan hal baik, setelah melakukan praktik tersebut. Aku pun tidak menyalahkan atau bahkan membenci ibuku karena telah mengajak melakukan praktik ruqyah, tanpa meminta izin atau memberitahukanku sebelumnya. Mungkin ibuku ingin memberikan yang terbaik untukku.

Daripada mengeluarkan sejumlah materi untuk praktik tersebut, alangkah lebih bijaknya lagi bila dipergunakan untuk melakukan hal-hal yang memberikan efek kebaikan untuk diri kita.

Oh iya. Aku ingin jujur kepada teman-teman sekalian, alasan mengapa hingga saat ini, aku belum mendapatkan pekerjaan. Selain karena stigma dan diskriminasi yang kurasakan dari masyarakat, dan sosial media tentang Orang Dengan HIV AIDS (ODHA) dan orientasi seksual tertentu, yang membuatku merasa takut dan terisolasi. Maka dari itu, aku memutuskan untuk membatasi diri dalam kehidupan sosial dan memilih untuk melamar pekerjaan, yang menurutku “aman”.

Setelah aku mulai memutuskan melangkahkan kaki untuk mengikuti kegiatan di komunitas Puzzle Indonesia, bertemu dengan orang-orang yang senasib denganku, dan orang-orang yang mendukung teman-teman ODHA, aku mulai merasakan perubahan demi perubahan yang signifikan. Diriku mulai membaik.

No comments

Perkumpulan Puzzle Indonesia adalah sebuah pusat informasi dan edukasi terkait kesehatan masyarakat khususnya HIV dan AIDS

Supported by :

Hubungi Kami

Basecamp Perkumpulan Puzzle Indonesia
JL. Desa Gg Desa 1 No. 25 RT 03 RW 02
Kel. Babakansari Kec. Kiaracondong
Bandung 40283 Jawa Barat

022-20541982

info@puzzleindonesia.com